Header image alt text

Rekam Kesehatan

Berbagi Pengetahuan dan Informasi Kesehatan, Rumah Sakit dan Rekam Medis

Grafik Barber Johnson

Posted by M Taufik Harahap on 12 Februari 2010
Posted in Rekam Medis  | Tagged With: , , , , , , | 1 Comment

grafik barber johnsonTulisan ini secara sederhana sudah lama saya sajikan di http://www.facebook.com/medicalrecord

Pendahuluan

Grafik Barber Johnson hanyalah  salah satu indikator efisiensi pengelolaan RS. Grafik ini secara visual dapat menyajikan dengan jelas tingkat efisiensi pengelolaan RS dan perkembangannya dari waktu ke waktu.  Sementara Efisiensi dapat dilihat dari sudut mutu pelayanan medis dan dari sudut ekonomi (pendayagunaan sarana).

Grafik ini menggambarkan 4 parameter dalam satu grafik, yaitu LOS, TOI, BOR dan BTO. Grafik ini bisa digunakan untuk menggambarkan perkembangan empat parameter tersebut dari tahun ke tahun ( Grafik BJ RS Sehat Selalu Tahun 2005 – 2010) dan bisa juga perbandingan antara satu unit dengan unit yang lain (Grafik BJ RS Sehat Selalu Menurut Ruang Rawat Inap Tahun 2010).

Untuk menggambar Grafik ini kita harus ikuti aturannya, untuk TOI, BOR dan BTO saya rasa tidak ada masalah perbedaan. Tetapi untuk menghitung LOS mungkin akan ada perbedaan, dimana dalam Juknis SIRS revisi 6 atau banyak Rumah Sakit untuk menghitung LOS menggunakan Lama Dirawat tetapi di Grafik ini LOS menggunakan Hari Rawat (Hari Perawatan). Read more

Tujuan Rekam Medis

Tujuan rekam medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, tidak akan tercipta tertib administrasi rumah sakit sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Kegunaan Rekam Medis

Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain : Read more

ICD 10

Posted by M Taufik Harahap on 12 Februari 2015
Posted in Rekam Medis  | Tagged With: , , , , | No Comments yet, please leave one

PENDAHULUAN

ICD 10 berisi pedoman untuk merekam dan memberi kode penyakit, disertai dengan materi baru yang berupa aspek praktis penggunaan klasifikasi.

Materi tersebut disajikan dalam buku yang terpisah untuk memudahkan penanganan bila diperlukan rujukan pada klasifikasi (buku jilid I) dan cara penggunaannya (buku jilid 2). Instruksi yang rinci dalam menggunakan indeks dapat dijumpai pada buku jilid 3.

Tujuan dan Klasifikasi

Klasifikasi penyakit dapat didefinisikan sebagai suatu sistem penggolongan (kategori) dimana kesatuan penyakit disusun berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

ICD mempunyai tujuan untuk mendapatkan rekaman sistematik, melakukan analisa, interpretasi serta membandingkan data morbiditas dan mortalitas dari negara yang berbeda atau antar wilayah dan pada waktu yang berbeda.

ICD digunakan untuk menterjemahkan diagnosa penyakit dan masalah kesehatan dari kata-kata menjadi kode alfanumerik yang akan memudahkan penyimpanan, mendapatkan data kembali dan analisa data. Read more

Kesadaran hukum dikalangan masyarakat dewasa ini telah meningkat, hal ini mengakibatkan timbulnya tuntutan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang Iebih baik, bahkan sering terjadi adanya pengaduan kepada pihak berwajib. Pembangunan dan pengembangan budaya hukum ditujukan demi terciptanya ketentraman, ketertiban, dan tegaknya hukum yang berintikan kejujuran, kebenaran dan keadilan untuk mewujudkan kepastian hukum. Sumber utama dari kegiatan administrasi kesehatan rumah sakit dimulai dari berkas catatan medis, oleh karenanya catatan inilah yang dipakai sabagai permulaan dasar pembuktian di pengadilan dan merupakan alat pembelaan yang syah jika tenjadi berbagai masalah gugatan.

Rekam Medis adalah catatan kronologis yang tidak disangsikan kebenarannya tentang pertolongan, perawatan, pengobatan seorang pasien selama mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Pengadilan dapat diyakinkan bahwa rekam medis tidak dapat disangkal kebenarannya dan dapat dipercaya. Oleh karena itu keseluruhan atau sebagian dari informasinya dapat dijadikan bukti yang memenuhi persyaratan.

Aspek hukum rekam medis tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, seperti dalam pasal 51 bahwa “Dokter atau Dokter Gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran mampunyai kewajiban dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien, menjaga rahasia kedokteran dan memberikan pelayanan selalu mengacu pada etika kedokteran yang berlaku”. Ketentuan pidana yang tertuang dalam pasal 79 UU N0. 29 Tahun 2004 ini adalah berkaitan dengan pasal 46, ayat (1) yaitu yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis dan pasal 51, seperti yang telah dijelaskan diatas, maka sangsi pidana atas pelanggaran pasal-pasal tersebut adalah dikenakan kurungan pidana paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling sedikit, Rp 50.000.000; Read more