Header image alt text

Rekam Kesehatan

Berbagi Pengetahuan dan Informasi Kesehatan, Rumah Sakit dan Rekam Medis

Grafik Barber Johnson

Posted by M Taufik Harahap | 3 Comments

grafik barber johnsonTulisan ini secara sederhana sudah lama saya sajikan di http://www.facebook.com/medicalrecord

Pendahuluan

Grafik Barber Johnson hanyalah  salah satu indikator efisiensi pengelolaan RS. Grafik ini secara visual dapat menyajikan dengan jelas tingkat efisiensi pengelolaan RS dan perkembangannya dari waktu ke waktu.  Sementara Efisiensi dapat dilihat dari sudut mutu pelayanan medis dan dari sudut ekonomi (pendayagunaan sarana).

Grafik ini menggambarkan 4 parameter dalam satu grafik, yaitu LOS, TOI, BOR dan BTO. Grafik ini bisa digunakan untuk menggambarkan perkembangan empat parameter tersebut dari tahun ke tahun ( Grafik BJ RS Sehat Selalu Tahun 2005 – 2010) dan bisa juga perbandingan antara satu unit dengan unit yang lain (Grafik BJ RS Sehat Selalu Menurut Ruang Rawat Inap Tahun 2010).

Untuk menggambar Grafik ini kita harus ikuti aturannya, untuk TOI, BOR dan BTO saya rasa tidak ada masalah perbedaan. Tetapi untuk menghitung LOS mungkin akan ada perbedaan, dimana dalam Juknis SIRS revisi 6 atau banyak Rumah Sakit untuk menghitung LOS menggunakan Lama Dirawat tetapi di Grafik ini LOS menggunakan Hari Rawat (Hari Perawatan). Continue reading “Grafik Barber Johnson” »

Tujuan Rekam Medis

Tujuan Rekam Medis adalah menunjang tercapainya tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar, tidak akan tercipta tertib administrasi rumah sakit sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan tertib administrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Kegunaan Rekam Medis

Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain : Continue reading “TUJUAN DAN KEGUNAAN REKAM MEDIS” »

Mutu dalam pengisian memang menjadi tanggung jawab para tenaga kesehatan. Sebab merekalah yang melaksanakan perekaman medis. Hal ini juga dijelaskan dalam UU Praktik Kedokteran No. 29 tahun 2004 pasal 46 ayat(1) : “Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran wajib membuat rekam medis.”

Selanjutnya dalam ayat (2) disebutkan bahwa “Rekam Medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus segera dilengkapi setelah pasien selesai menerima pelayanan kesehatan.

Dalam ayat (3) disebutkan bahwa “Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau tindakan”.

Sewaktu berkas rekam medis tiba di instalasi rekam medis maka petugas yang menerimanya harus memeriksa apakah berkas Rekam Medis yang diterima tersebut telah lengkap secara kualitas maupun kuantitas. Kegiatan ini disebut penganalisaan mutu (qualitative analysis). Yang dilakukan petugas rekam medis dalam penganalisaan mutu rekam medis antara lain : Continue reading “Analisa Mutu Rekam Medis” »

Penyimpanan Berkas Rekam Medis pada setiap Pelayanan Kesehatan disimpan berdasarkan nomor pasien, yaitu nomor Rekam Medis pasien pada saat masuk Rumah Sakit (Admission Patient Number). Penyimpanan secara alpabets menurut nama-nama pasien lebih menyulitkan dan memungkinkan terjadinya kesalahan-kesalahan dibandingkan dengan penyimpanan berdasar nomor pasien.

Jika kartu pasien hilang, nomor pasien masuk dapat diperoleh dari data dasar pasien yang tersimpan di dalam sistem. Dengan mengetahui nama lengkap dan tanggal masuk pasien. Tetapi jika menggunakan nomor kartu indeks pasien keluar tidak akan dapat secara maksimal menemukan nomor keluar, sehingga lokasi rekam medisnya sulit ditemukan.

Ada tiga sistem pemberian nomor pasien pada saat pasien datang ke unit pelayanan kesehatan (Admission Numbering System) yang umumnya dipakai yaitu: Continue reading “Sistem Pemberian Nomor Pasien” »

Sistem Penamaan Pasien

Sebelum penetapan sistem penamaan yang dipakai, terlebih dahulu kita harus memahami keperluan yang mendasar dari pada sistem penamaan tersebut, sehinggga diangggap perlu ditetapkan dengan sistem tersendiri. Pada dasarnya sistem penamaan untuk memberikan identitas kepada seorang pasien serta untuk membedakan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya, sehingga mempermudah dalam proses pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien yang datang berobat ke rumah sakit.

Tata cara penulisan nama pasien di Rumah Sakit meliputi antara lain: Continue reading “Sistem Penamaan Pasien” »

ICD 10

Posted by M Taufik Harahap | No Comments yet, please leave one

PENDAHULUAN

ICD 10 berisi pedoman untuk merekam dan memberi kode penyakit, disertai dengan materi baru yang berupa aspek praktis penggunaan klasifikasi.

Materi tersebut disajikan dalam buku yang terpisah untuk memudahkan penanganan bila diperlukan rujukan pada klasifikasi (buku jilid I) dan cara penggunaannya (buku jilid 2). Instruksi yang rinci dalam menggunakan indeks dapat dijumpai pada buku jilid 3.

Tujuan dan Klasifikasi

Klasifikasi penyakit dapat didefinisikan sebagai suatu sistem penggolongan (kategori) dimana kesatuan penyakit disusun berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

ICD mempunyai tujuan untuk mendapatkan rekaman sistematik, melakukan analisa, interpretasi serta membandingkan data morbiditas dan mortalitas dari negara yang berbeda atau antar wilayah dan pada waktu yang berbeda.

ICD digunakan untuk menterjemahkan diagnosa penyakit dan masalah kesehatan dari kata-kata menjadi kode alfanumerik yang akan memudahkan penyimpanan, mendapatkan data kembali dan analisa data. Continue reading “ICD 10” »

KEWAJIBAN MEMBUAT REKAM MEDIS

Posted by M Taufik Harahap | 1 Comment

Kesadaran hukum dikalangan masyarakat dewasa ini telah meningkat, hal ini mengakibatkan timbulnya tuntutan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik, bahkan sering terjadi adanya pengaduan kepada pihak berwajib. Pembangunan dan pengembangan budaya hukum ditujukan demi terciptanya ketentraman, ketertiban, dan tegaknya hukum yang berintikan kejujuran, kebenaran dan keadilan untuk mewujudkan kepastian hukum. Sumber utama dari kegiatan administrasi kesehatan rumah sakit dimulai dari berkas catatan medis, oleh karenanya catatan inilah yang dipakai sabagai permulaan dasar pembuktian di pengadilan dan merupakan alat pembelaan yang syah jika tenjadi berbagai masalah gugatan.

Rekam Medis adalah catatan kronologis yang tidak disangsikan kebenarannya tentang pertolongan, perawatan, pengobatan seorang pasien selama mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Pengadilan dapat diyakinkan bahwa rekam medis tidak dapat disangkal kebenarannya dan dapat dipercaya. Oleh karena itu keseluruhan atau sebagian dari informasinya dapat dijadikan bukti yang memenuhi persyaratan.

Aspek hukum rekam medis tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, seperti dalam pasal 51 bahwa “Dokter atau Dokter Gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran mampunyai kewajiban dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien, menjaga rahasia kedokteran dan memberikan pelayanan selalu mengacu pada etika kedokteran yang berlaku”. Ketentuan pidana yang tertuang dalam pasal 79 UU N0. 29 Tahun 2004 ini adalah berkaitan dengan pasal 46, ayat (1) yaitu yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis dan pasal 51, seperti yang telah dijelaskan diatas, maka sangsi pidana atas pelanggaran pasal-pasal tersebut adalah dikenakan kurungan pidana paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling sedikit, Rp 50.000.000; Continue reading “KEWAJIBAN MEMBUAT REKAM MEDIS” »