Kode Mortalitas

Posted 03/12/2013 By m taufik harahap

KODE MORTALITAS (Penyebab Kematian)

World Health Assembly XX tahun 1967 mendifinisikan Penyebab kematian adalah penyakit, keadaan sakit atau cedera yang dapat menimbulkan kematian dan kecelakaan atau kekerasan yang menimbulkan cedera yang mematikan.

Underlying cause of death (sebab kematian utama) adalah penyakit atau cedera yang  menimbulkan serangkaian kejadian yang berakhir dengan kematian atau  kecelakaan atau kekerasan yang menimbulkan  cedera yang mematikan.

Tujuan Mengumpulkan Data Mortalitas adalah untuk mengetahui:

  • Penyakit Penyebab kematian menurut ICD-10 secara nasional dan menurut  kawasan.
  • Angka kematian kasar dan angka kematian menurut kelompok umur

Manfaat Statistik Penyebab Kematian

  • Tren dan diferensial penyakit
  • Perencanaan program intervensi
  • Monitoring
  • Evaluasi program
  • Penelitian epidemiologi
  • Penelitian biomedis dan sosiomedis Perencana kesehatan, Administrator, medis profesional (Baca Tulisan Selanjutnya) »
43 Comments so far. Join the Conversation
  

Kompetensi Perekam Medis

Posted 19/10/2013 By m taufik harahap
rekam kesehatan

Kompetensi Perekam Medis

KOMPETENSI POKOK

  1. KLASIFIKASI DAN KODEFIKASI PENYAKIT, MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN KESEHATAN DAN TINDAKAN MEDIS
  2. ASPEK HUKUM DAN ETIKA PROFESI
  3. MANAJEMEN REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
  4. MENJAGA MUTU REKAM MEDIS
  5. STATISTIK KESEHATAN

 KOMPETENSI PENDUKUNG

  1. MANAJEMEN UNIT KERJA REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
  2. KEMITRAAN PROFESI

 Kompetensi 1

Perekam medis mampu menetapkan kode penyakit dan tindakan dengan tepat sesuai klasifikasi internasional tentang penyakit dan tindakan medis dalam pelayanan dan manajemen kesehatan, Nomor kode diagnosis, Fungsi indeks penyakit, Registrasi, Aplikasi ICD-10, Penyediaan informasi morbiditas & mortalitas, Manfaat data diagnosis dalam klaim asuransi,  Etika koding  dsb

Kompetensi 2

Perekam medis mampu melakukan tugas dalam memberikan pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan yang bermutu tinggi dengan memperhatikan perundangan dan etika profesi yang berlaku,  Hak dan kewajiban pasien,  Hak dan kewajiban tenaga kesehatan, Kerahasiaan rekam medis (penyimpanan, penggunaan untuk riset, retensi, pemusnahan), Pelepasan informasi dan aksesnya,  Etika profesi  dsb

Kompetensi 3

Perekam medis mampu mengelola rekam medis dan informasi kesehatan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan medis, administrasi dan kebutuhan informasi kesehatan sebagai bahan pengambilan keputusan di bidang kesehatan, Manajemen isi rekam medis (fungsi rekam medis, analisis kuantitatif/kualitatif, model sistem rekam medis), Manajemen berkas (sistem penamaan, sistem penomoran, sistem penyimpanan, sistem retensi, assembling, disain formulir, koding, indeksing, pelaporan), Manajemen kearsipan, Aplikasi komputer,  Dasar-dasar pemrograman, Konsep-konsep Database dsb

Kompetensi 4

Perekam medis mampu mengelola, merencanakan, melaksanakn, mengevaluasi dan menilai mutu rekam medis, Mutu pelayanan, Manajemen mutu rekam medis dan informasi kesehatan, Teknik penilaian mutu, Teknik peningkatan mutu, Audit rekam medis,  Sistem registrasi,  lisensi dan akreditasi, Ergonomi  dsb

Kompetensi 5

Perekam medis mampu menggunakan statistik kesehatan untuk menghasilkan informasi dan perkiraan yang bermutu tinggi sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di bidang pelayanan kesehatan, Peranan statistik pelayanan kesehatan, Indikator pelayanan kesehatan, Sistem informasi manajemen, Pengolahan dan analisis data (epi-info), Pengenalan jaringan dan  Aplikasi computer

Kompetensi 6

Perekam medis mampu mengelola sumber daya yang tersedia di unit kerja rekam medis untuk dapat mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang informasi kesehatan, Prinsip manajemen, Rencana strategik, Manajemen SDM, Manajemen unit kerja, Produktivitas kerja, Alur dan prosedur kerja, Perilaku organisasi, Disain ruangan/tata letak, Standar peralatan unit kerja rekam medis, Administrasi perkantoran  dsb

Kompetensi 7

Perekam medis mampu berkolaborasi inter dan intra profesi yang tekait dalam pelayanan kesehatan, Organisasi profesi, Leadership, Komunikasi efektif, Informasi efektif dan efisien  dsb

M Taufik Harahap

Be the first to comment
  

ICD 10

Posted 01/08/2013 By m taufik harahap

PENDAHULUAN

ICD 10 berisi pedoman untuk merekam dan memberi kode penyakit, disertai dengan materi baru yang berupa aspek praktis penggunaan klasifikasi.

Materi tersebut disajikan dalam buku yang terpisah untuk memudahkan penanganan bila diperlukan rujukan pada klasifikasi (buku jilid I) dan cara penggunaannya (buku jilid 2). Instruksi yang rinci dalam menggunakan indeks dapat dijumpai pada buku jilid 3.

Tujuan dan Klasifikasi

Klasifikasi penyakit dapat didefinisikan sebagai suatu sistem penggolongan (kategori) dimana kesatuan penyakit disusun berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

ICD mempunyai tujuan untuk mendapatkan rekaman sistematik, melakukan analisa, interpretasi serta membandingkan data morbiditas dan mortalitas dari negara yang berbeda atau antar wilayah dan pada waktu yang berbeda.

ICD digunakan untuk menterjemahkan diagnosa penyakit dan masalah kesehatan dari kata-kata menjadi kode alfanumerik yang akan memudahkan penyimpanan, mendapatkan data kembali dan analisa data.

Struktur dasar dan Prinsip Klasifikasi ICD

Ciri utama pada ICD-10 adalah koding alfanumerik, berupa satu huruf yang diikuti dengan 3 angka untuk tingkatan 4 karakter. Hal ini memberi efek lebih luas dibandingkan dengan pada revisi–9. Setiap huruf dapat menampung 100 katagori 3 karakter Susunan bab per bab pada usulan revisi-10 pada dasarnya sama dengan susunan pada revisi–9.

Untuk membuat pemakaian ruang lebih efektif, gangguan mekanisme kekebalan kemudian dimasukkan ke Penyakit Darah dan Organ pembentuk darah, sedangkan pada revisi–9 termasuk dalam Penyakit Endokrin, Nutrisional dan Metabolik. Selain itu ada beberapa perubahan ditempat lain, seperti yang semula klasifikasi tambahan (Kode V) pada ICD-9, telah pula menjadi klasifikasi inti dan diciptakannya dua bab baru, sehingga jumlah keseluruhan bab pada ICD-10 menjadi 22 (dua puluh dua) bab.

Pada garis besarnya dalam ICD-10, terdapat perubahan sebagai berikut :
Jumlah volume yang semula dua volume menjadi tiga volume, yaitu: (Baca Tulisan Selanjutnya) »

Be the first to comment
  

Aspek Hukum

Posted 10/06/2013 By m taufik harahap
rekam kesehatan

Kesadaran hukum dikalangan masyarakat dewasa ini telah meningkat, hal ini mengakibatkan timbulnya tuntutan pasien terhadap pelayanan kesehatan yang lebih baik, bahkan sering  terjadi  adanya pengaduan kepada pihak berwajib. Pembangunan dan pengembangan budaya hukum ditujukan demi terciptanya ketentraman, ketertiban, dan tegaknya hukum yang berintikan kejujuran, kebenaran dan keadilan untuk mewujudkan kepastian hukum. Sumber utama dari kegiatan administrasi kesehatan rumah sakit dimulai dari barkas catatan medis, oleh karenanya catatan inilah yang dipakai sebagai  permulaan dasar pembuktian di pengadilan dan merupakan alat pembelaan yang syah jika terjadi berbagai masalah gugatan.

Rekam Medis adalah catatan kronologis yang tidak disangsikan kebenarannya tentang pertolongan, perawatan, pengobatan seorang pasien selama mendapatkan pelayanan di rumah sakit. Pengadilan dapat diyakinkan bahwa rekam medis tidak dapat disangkal kebenarannya dan dapat dipercaya. Oleh karena itu keseluruhan atau sebagian dari informasinya dapat dijadikan bukti yang memenuhi persyaratan.

Aspek hukum rekam medis tertuang dalam Undang·Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, seperti dalam pasal 51 bahwa “Dokter atau Dokter Gigi dalam melaksanakan praktek kedokteran mampunyai kewajiban dalam memberikan pelayanan sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien, menjaga rahasia kedokteran dan memberikan pelayanan selalu mengacu pada etika kedokteran yang ber!aku” . Ketentuan pidana yang tertuang dalam pasal 79 UU N0.29.tahun 2004 ini adalah berkaitan dengan pasal 46, ayat (1} yaitu yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis dan pasal 51, seperti yang telah dijelaskan diatas, maka sangsi pidana atas pelanggaran pasal-pasal tersebut adalah dikenakan kurungan pidana paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling sedikit, Rp 50.000.000; (Baca Tulisan Selanjutnya) »

Be the first to comment
  

Grafik Barber Johnson

Posted 22/05/2013 By m taufik harahap
Grafik Barber Johnson

Grafik Barber Johnson 

(Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya sampaikan melalui www.facebook.com/medicalrecord, tapi ada beberapa revisi penyempurnaan)

Dalam kegiatan manajemen rumah sakit dikenal adanya grafik barber johnson. Walaupun setuju atau tidak setuju Grafik tersebut hanyalah salah satu dari sekian banyak indikator rumah sakit. Grafik ini menggambarkan sekaligus 4 variabel yaitu BOR, LOS, TOI dan BTO.  Grafik ini bisa digunakan untuk menggambarkan perkembangan empat parameter tersebut dari tahun ke tahun ( Grafik BJ RS Tak Mau Sakit Tahun 2009 – 2012) dan bisa juga perbandingan antara satu unit dengan unit yang lain (Grafik BJ RS Tak Mau Sakit Menurut Ruang Rawat Inap Tahun 2012). Tahapan dalam memahami grafik ini akan saya uraikan satu persatu.

Untuk menggambar Grafik ini kita harus ikuti aturannya, untuk TOI, BOR dan BTO saya rasa tidak ada masalah perbedaan. Tetapi untuk menghitung LOS mungkin akan ada perbedaan, dimana dalam Juknis SIRS revisi 6 atau banyak Rumah Sakit untuk menghitung LOS menggunakan Lama Dirawat tetapi di Grafik ini LOS menggunakan Hari Rawat (Hari Perawatan).

 Sumbu datar adalah TOI dan sumbu tegak adalah LOS.

sumbu dasar

Pengertian Dasar

bor-los

toiii

bto

Untuk menggambar Grafik ini kita harus ikuti aturannya, untuk TOI, BOR dan BTO saya rasa tidak ada masalah perbedaan. Tetapi untuk menghitung LOS mungkin akan ada perbedaan, dimana dalam Juknis SIRS revisi 6 atau banyak Rumah Sakit untuk menghitung LOS menggunakan Lama Dirawat tetapi di Grafik ini LOS menggunakan Hari Rawat (Hari Perawatan).

Bed Occupancy Rate (BOR) yaitu prosentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.

Length of Stay (LOS)  atau ada juga menyebut dengan Average Length of Stay yaitu rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut.

 Turn Over Interval (TOI) yaitu rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini juga memberikan gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.

Bed Turn Over (BTO) yaitu frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu.

TT adalah Tempat Tidur dan 365 adalah Jumlah Hari dalam 1 Tahun.

Langkah 1

Menggambar Garis BOR 50%, 70%, 80% dan 90% (Baca Tulisan Selanjutnya) »

327 Comments so far. Join the Conversation
  

Pengertian Rekam Medis

Posted 22/05/2013 By m taufik harahap
rekam kesehatan

REKAM KESEHATAN

Rekam Medis adalah kumpulan berkas yang berisikan segala sesuatu yang berhubungan dengan perawatan pasien di institusi pelayanan kesehatan. Bayangkan ketika kita datang ke dokter, klinik, rumah sakit atau institusi pelayanan kesehatan lainnya, maka yang ditanyakan pertama adalah identitas kita. Selanjutnya dokter atau tenaga kesehatan lainnya akan menanyakan apa keluhan dan yang berkaitan dengan keluhan kita. Ini adalah awal dari proses rekam medis. Proses selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik, seperti tensi darah atau ukur suhu tubuh. Semua yang dilakukan dan terapi yang diberikan dicatat dalam suatu lembar kertas, kartu ataupun media lainnya (Inilah yang disebut rekam medis).

Perkembangan Rekam Medis sangat cepat seiring dengan kemajuan bidang kedokteran, kesadaran hukum dan teknologi informasi. Sehingga perubahan paradigma dari rekam medis menjadi rekam kesehatan sudah harus kita terima.

Peraturan tentang penyelenggaraan Rekam Medis  dimulai Tahun 1989, dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.749a/Menkes/PER/XII/ 1989 tentang Rekam Medis, yang mana pengaturannya masih mencakup rekam medis berbasis kertas (konvensional). Sementara saat ini Rekam medis konvensional kurang tepat lagi untuk digunakan disaat mana kita sudah menggunakan informasi secara intensif dan lingkungan yang berorientasi pada otomatisasi pelayanan kesehatan dan bukan terpusat pada unit kerja semata.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang melanda dunia telah berpengaruh besar bagi perubahan pada semua bidang, termasuk bidang kesehatan. Salah satu penggunaan teknologi informasi (TI) di bidang kesehatan yang menjadi tren dalam pelayanan kesehatan secara global adalah rekam kesehatan elektronik (Electronic Medical Record).  Selama ini rekam medis mengacu pada Pasal 46 dan Pasal 47 UU No.29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dan Permenkes No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis sebagai pengganti dari Peraturan Menteri Kesehatan No.749a/Menkes/PER/XII/1989.

Undang-undang No.29 Tahun 2004 sebenarnya telah diundangkan saat EMR sudah banyak digunakan, namun belum mengatur mengenai EMR. Begitu pula Peraturan Menteri Kesehatan No.269/Menkes/PER/III/2008 tentang Rekam Medis belum sepenuhnya mengatur mengenai EMR. Hanya pada Bab II pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa “Rekam medis harus dibuat secara tertulis, lengkap dan jelas atau secara elektronik”. Secara tersirat pada ayat tersebut memberikan ijin kepada sarana pelayanan kesehatan membuat rekam medis secara elektronik (EMR).

M Taufik Harahap

11 Comments so far. Join the Conversation